Contoh Pantun Karmina

Contoh Pantun Karmina, Pantun merupakan suatu puisi lama, Karmina atau dikenal dengan sebutan pantun kilat termasuk kedalam salah satu jenis pantun yang hanya terdiri dari dua baris saja.

Pantun ini disebut sebagai pantun kilat, karena pantun ini hanya mempunyai dua baris. Ingin tahu lebih rinci dan jelasnya.

Mari kita simak penjabaran dan penjelasan dibawah ini secara lengkap.

Pengertian

Contoh Pantun Karmina
Contoh Pantun Karmina

Pantun karmina adalah sebuah jenis pantun kilat atau dapat juga disebut sebagai pantun dua rangkai. Selain itu karmina ini merupakan salah satu ciri atau corak dari sastra melayu.

Dapat dilihat dari asal mulanya karmina nyatanya berasal dari empat baris, yang pada tiap barisnya mempunyai empat suku kata, namun dipersingkat menjadi dua baris saat diucapkan seakan – akan menjadi sebuah kalimat tertentu.

Ciri – Ciri

Jika telah mengetahui pengertiannya, berikut dibawah ini ciri-ciri pantun karmina yang akan dijabarkan satu demi satu :

  • Tiap bait terdapat atau terdiri dari dua baris.
  • Baris pertama merupakan suatu sampiran.
  • Baris kedua merupakan suatu isi.
  • Unsur bersajak yaitu a-a.
  • Tiap bait terdiri mulai dari 8 sampai 12 suku kata.
  • Isi dari sebuah pantun karmina yaitu tersirat menyatakan sindiran secara lugas.

Contoh Pantun Karmina

Untuk lebih pahamnya, berikut beberapa contoh pantun kilat (karmina) :

Bagian Satu

Dahulu ketan sekarang ketupat
Dahulu preman sekarang ustadz

Pergi ke rawa ke muara pula
Sudah tak juara tak sholat pula

Buah nangka bentuknya bulat
Sudah tua bangka belum ingat akhirat

Kelapa diparut enak rasanya
Biar perutnya gendut baik hatinya

Ikan lele beli di pasar
Persoalan sepele jangan diumbar

Parfum dicium harum baunya
Baca Al-Quran paham maknanya

Tiada umat sepandai Nabi
Turutlah ilmu sebelum mati

Siapkanlah bekal menjelang wafat
Dengan sebarkan ilmu yang bermanfaat

Kiri kanan berbatang sepat
Perut kenyang ajaran dapat

Limau purut di tepi rawa
Sakit perut sebab tertawa

Dahulu parang,sekarang besi
Dahulu sayang,sekarang benci

Sudah garahu cendana pula
Sudah tahu bertanya pula

Jalan – jalan ke trotoar
Walau kampungan tapi pintar

Burung elang burung kutilang
Aku pulang membawa uang

Tas hitam di atas meja
Saya cakep siapa yang punya

Situ bagendit jangan dicaci
Kakek genit digoda banci

Ikan kakap makan kepompong
Banyak cakap suka bohong

Didanau rumpun bambu ada buaya
Kalau tak tahu jangan malu tanya

Air panas di dalam panci
Kurang pantas memuji diri

Gendang gendut tali kecapi
Kenyang perut senang hati

Pinggan tak retak, nasi tak dingin
Tuan tak hendak ,kami tak ingin

Kayu lurus didalam gudang
Sapi kurus banyak tulang

Ayam jago terbang ke awan
Ayo kita menjadi kawan

Ikan sembilang di balik batu
Sudah dibilang jangan mengganggu

Bagian Dua

Sudah gaharu cendana pula
Sudah tahu bertanya pula

Kura – kura dalam perahu
Pura-pura tidak tahu

Gelatik di pohon jati
Cantik yang tetap baik hati

Gelatik mematuk kayu ubi
Cantik itu yang berbudi

Gelatik berada dalam rumah
Cantik itu beradab yang ramah

Gelatik menghirup buah salak
Cantik itu karena akhlak

Gelatik mematuk pohon polong
Cantik itu suka menolong

Gelatik burung yang kicauan
Cantik itu karna beriman

Gelatik berada di pohon lada
Cantik itu yang berlapang dada

Gelatik terbang ke atas awan
Cantik itu yang dilihat dermawan

Gelatik main di suatu batu
Cantik itu kalau membantu

Ada jelaga di kereta
Mata terjaga hati tertata

Buahnya ranum kulitnya luka
Bibir tersenyum banyak yang suka

Tari saman yang indah gerakannya
Tanda iman yang lapang dadanya

Berang – berang makan bekicot
Si budi banyak bacot

Indah taman makan tajin
Tanda iman kerjanya rajin

Indahnya taman waktu temaram
Tanda iman hidupnya tentram

Indahnya taman di bilabong
Tanda iman orangnya tak sombong

Demikianlah pembahasan ini, semoga bermanfaat dan menjadi ilmu pengetahuan baru untuk anda semua.

Baca Juga :

close