Latar Belakang Pemberontakan PRRI

Latar Belakang Pemberontakan PRRI, Pembahasan mengenai materi mengenai pemberontakan prri yang dibahas secara lengkap mulai dari Latar belakang, Tokoh, Tujuan, Upaya, dan Dampak.

Nah maka untuk melengkapi tema pembahasan kita kali ini maka, simak penjelasan selengkapnya berikut dibawah ini.

Pengertian PRRI

Pengertian PRRI

PRRI adalah singkatan dari istilah Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia, sedangkan istilah Permesta yaitu sebuah singkatan dari Perjuangan Rakyat Semesta.

Jadi dari kedua Pemberontakan itu memang sudah muncul ketika menjelang pembentukan RIS atau Republik Indonesia Serikat sekitar pada tahun 1949.

Adapun juga yang menjadi akar permasalahannya yaitu ketika pembentukan RIS pada tahun 1949 yang secara bersamaan dengan dikerucutkan Divisi Banteng yang lalu hanya tersisa 1 brigade saja.

Mungkin anda baca juga mengenai persatuan dan persatuan bangsa indonesia.

Latar Belakang Pemberontakan PRRI

Adapun Latar belakang dari terjadinya pemberontakan PRRI dan Permesta ini disebabkan adanya suatu hubungan yang tidak baik.

Yaitu antara pemerintah pusat dan daerah tentang sebuah perkara otoda dan keuangan antara pusat dan juga daerah.

Karena dimana ada sebuah daerah yang ketika merasa dirugikan adalah daerah Sumatera dan Sulawesi. Lalu dengan sikap yang merasa tidak puas tersebut juga memperoleh banyak dukungan dari beberapa para perwira militer.

Jadi, hingga akhirnya semua para perwira militer tersebut mereka membentuk suatu dewan daerah yaitu :

  • Pertama Dewan banteng dibentuk sejak tanggal 20 desember 1956. Bertempat di Sumatera Barat yang didirikan oleh Letnan Kolonel Ahmad Husein
  • Kedua Dewan Gajah dibentuk sejak pada 22 Desember 1956. Bertempat di Sumatera Utara yang didirikan oleh Kolonel Maludin Simbolon
  • Ketiga Dewan Garuda dibentuk sejaka dari pertengahan bulan Januari pada tahun 1957 yang didirikan oelh Letnan Kolonel Barlian
  • Keempat Dewan Manguni dibentuk sejak 17 Februari 1957. Bertempat di Manado didirikan oleh Mayor Somba

Jadi, sekitar pada tanggal 9 Januari 1958 dimana ketika itu semua para tokoh militer dan sipil sedang melaksanakan sebuah pertemuan yang berlangsung di Sungai Dareh, yaitu didaerah Sumatera Barat.

Namun, Inti dari diadakannya pertemuan itu adalah untuk membahas mengenai suatu pembentukan pemerintah baru dan sebuah hal yang masih berkaitan dengan pemerintah baru.

Lalu seorang Letnan Kolonel yang bernama Ahmad Husein sekitar tanggal 15 Februari 1958. Telah memproklamirkan dibentuknya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang dilakukan dengan perdana menteri Syafruddin Prawiranegara.

Sehingga, tindakan yang diambil oleh pemerintah untuk menghadapi pemberontakan PRRI, adalah dengan melakukan operasi yang berlangsung pada 17 Agustus dan dipimpin oleh Letnan Kolonel Ahmad Yani.

Sehingga, dimana diadakannya Operasi militer ini memiliki tujuan agar bisa meluluhlantakan kekuatan pemberontak dan mencegah keterlibatan pihak asing yang nantinya bisa merugikan pemerintahan.

Namun, setelah didirikannya dewan Manguni yang ketika itu terjadi sekitar tanggal 17 Februari 1950 lampau, dan lalu semua para tokoh militer yang ada di Sulawesi sudah memproklamirkan Piagam Perjuangan Rakyat Semesta atau (Permesta).

Lalu berlangsungnya Proklamasi itu yang mana dipelopori oleh Letnan Kolonel Ventje Sumual Panglima Wirabhuana, Dan setelah itu Permesta mulai ikut bergabung dengan PRRI.

Maka dalam upaya menumpas pemberontakan itu, akhirnya pemerintah melangsungkan operasi militer gabungan yang disebut dengan Operasi Merdeka yang ketika itu dipimpin langsung oleh Letnan Kolonel Rukminto Hendraningrat.

Lalu proses Operasi dalam penumpasan Permata ini sangat sengit karena pasalnya musuh memiliki berbagai persenjataan yang cukup modern yang adalah buatan Amerika Serikat.

Jadi, dalam hal itu sudah terbukti dengan ditembaknya Pesawat Angkatan Udara Revolusioner (Aurev) yang ketika itu dikemudikan oleh Allan L. Pope adalah seorang warga negara Amerika Serikat.

Tetapi, pada akhirnya Pemberontakan PRRI dan Permesta tersebut baru bisa dibasmi atau ditumpas sejak bulan Agustus 1958, dan lalu sekitar tahun 1961. Akhirnya pemerintah membuka sebuah kesempatan bagi semua anggota yang tersisa dari Permesta agar mau kembali Republik Indonesia.

Baca Juga : Sumber Keuangan Negara

Tujuan Dari Pemberontakan PRRI

Pemberontakan PRRI

Tujuan dari pemberontakan PRRI yaitu guna mendorong pemerintah agar memperhatikan pembangunan negeri secara menyeluruh, karena ketika itu pemerintah hanya fokus pada pembangunan yang berada di daerah Pulau jawa.

Lalu dengan usulan dari PRRI yaitu atas ketidakseimbangan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah pusat. Walaupun alasan yang dilakukan oleh PRRI ini benar, tetapi cara yang digunakan untuk mengoreksi pemerintah pusat itu salah.

Lalu pemerintah dituntut oleh PRRI dengan nada paksaan, maka pemerintah menganggap bahwa tuntutannya itu bersifat memberontak. Hal itu menimbulkan kesan bagi pemerintah pusat bahwa PRRI yaitu suatu bentuk pemberontakan.

Namun, jika PRRI itu dikatakan sebagai pemberontak, hal ini adalah anggapan yang tidak tepat karena sebetulnya PRRI ingin membenahi dan memperbaiki sistem pembangunan yang dilakukan pemerintah pusat. Bukan untuk menjatuhkan pemerintahan Republik Indonesia.

Karena ketidakpuasan PRRI terhadap keputusan pemerintah pusat, akhirnya PRRI membentuk dewan-dewan daerah yang terdiri dari Dewan Banteng, Dewan Gajah, dan Dewan Garuda.

Maka, Pada tanggal 15 Februari 1958, Achmad Husein memproklamasikan bahwa berdirinya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia dengan Syarifudin Prawiranegara sebagai perdana menterinya.

Dampak Dari Pemberontakan PRRI

Adapun dampak yang disebabkan adanya pemberontakan ini, yang pada akhirnya pemerintah pusat membentuk sebuah pasukan agar bisa melawan pemberontakan PRRI.

Dengan kejadian ini menimbulkan pertumpahan darah dan jatuhnya sejumlah korban jiwa baik dari TNI ataupun PRRI.

Dan lalu disamping itu, semua pembangunan menjadi mangkrak dan terbengakalai dan menimbulkan rasa trauma yang di alami masyarakat Sumatera khususnya daerah Padang.

Adapun 7 dampak penting lainnya yaitu seperti berikut ini :

  • Banyak memakan korban jiwa.
  • Kendisi ekonomi menjadi terganggu.
  • Proses Pembangunan menjadi mangkrak dan terhenti.
  • Terjadinya Penurunan sumber daya manusia.
  • Hubungan antar Indonesia dan Amerika Serikat menjadi terganggu.
  • Hubungan antara Indonesia dengan Malaysia menjadi terganggu.
  • Adanya Kesadaran berotonomi.

Baca Juga : Pemberontakan Di TII

Tokoh Kabinet PRRI

Kabinet PRRI terdiri dari:

  • Mr. Sjafruddin Prawiranegara : adalah seorang Perdana Menteri dan merangkap Menteri Keuangan,
  • Mr. Assaat Dt. Mudo adalah seorang Menteri Dalam Negeri, namun sebelumnya Dahlan Djambek sempat memegangnya
  • Kol. Maludin Simbolon adalah seorang Menteri Luar Negeri,
  • Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo adalah seorang Menteri Perhubungan dan juga Pelayaran,
  • Muhammad Sjafei adalah seorang Menteri PPK dan Kesehatan,
  • J.F. Warouw adalah seorang Menteri Pembangunan,
  • Saladin Sarumpaet adalah salah seorang Menteri Pertanian dan Perburuhan,
  • Muchtar Lintang adalah seorang Menteri Agama,
  • Saleh Lahade adalah Menteri Penerangan,
  • Ayah Gani Usman adalah Menteri Sosial,
  • Kol. Dahlan Djambek adalah salah seorang Menteri Pos dan Telekomunikasi setelah Mr. Assaat hingga di Padang

Tokoh Dalam Peristiwa PRRI

  • Achmad Husein
  • Mr. Syafrudin Prawiranegara
  • Letkol Kaharudin Nasution
  • Kolonel Achmad Yani
  • Brigjen Djatikusumo
  • Letkol Ibnu Sutowo

Usaha Pemerintah Menumpas Pemberontakan PRRI/PERMESTA

Terjadinya pemberontakan PRRI/PERMESTA ini mendorong pemerintahan RI untuk mendesak Kabinet Djuanda dan Nasution agar menindak tegas pemberontakan yang dilakukan oleh organisasi PRRI/PERMESTA tersebut.  

Kabinet Nasution dan para mayoritas pimpinan PNI dan PKI menghendaki agar pemberontakan tersebut untuk segera di musnahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.  

Namun, pada akhir bulan Februari, Angkatan Udara RI memulai pengeboman instansi-instansi penting yang berada di kota Padang, Bukit Tinggi, dan Manado.  

Sebelum pendaratan itu dilakukan, Nasution telah mengiriman Pasukan Resmi Para Komando Angkatan Darat di ladang-ladang minyak yang berada di kepulauan Sumatera dan Riau.  

Pada tanggal 14 Maret 1958, daerah Pecan Baru berhasil dikuasai, dan Operasi Militer lalu dikerahkan ke pusat pertahanan PRRI. Selanjutnya pada 4 Mei 1958 yang mana Bukit tinggi sudah berhasil dikuasai dan selanjutnya TNI membereskan daerah-daerah bekas pemberontakan PRRI.

Pada penyerangan tersebut, banyak pasukan PRRI yang melarikan diri ke area perhutanan yang berada di daerah tersebut.

Demikian pembahasan tentang materi pemberontakan PRRI, semoga dapat bermanfaat untuk sahabat sekalian.

Terima Kasih.

close